JAKARTA - Panen Raya di Kabupaten Karawang tidak hanya menjadi perayaan keberhasilan produksi pertanian, tetapi juga momentum untuk menegaskan arah pembangunan sektor pangan nasional.
Di hadapan petani dan pemangku kepentingan, Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung penerapan hilirisasi dan teknologi pertanian modern yang kini mulai menjadi tulang punggung transformasi pertanian Indonesia.
Kegiatan ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam mendorong pertanian yang efisien, bernilai tambah, dan berdaya saing.
Presiden Prabowo Subianto melakukan peninjauan berbagai inovasi hilirisasi dan teknologi pertanian modern dalam rangkaian kegiatan Panen Raya di Desa Kertamukti, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat.
Peninjauan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan bahwa modernisasi pertanian benar-benar diterapkan di tingkat lapangan dan dirasakan langsung oleh para petani.
Pemanfaatan Alsintan Otonom dan Teknologi Digital
Dalam kegiatan tersebut, Presiden Prabowo menyaksikan langsung pengolahan lahan menggunakan alat dan mesin pertanian (alsintan) otonom. Teknologi yang diperagakan meliputi penggunaan traktor dan rice transplanter yang beroperasi secara otomatis.
Kehadiran alsintan modern ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja manual.
Selain itu, demonstrasi penggunaan drone pertanian juga menjadi perhatian dalam peninjauan tersebut. Drone digunakan untuk mendukung kegiatan pertanian, mulai dari pemantauan kondisi lahan hingga penyemprotan yang lebih presisi.
Pemanfaatan teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya produksi, serta meminimalkan risiko kesalahan dalam proses budidaya.
Presiden Prabowo juga melihat langsung pemanfaatan pompa otomatis yang digunakan untuk mendukung efisiensi sistem irigasi.
Sistem ini dirancang untuk mengatur distribusi air secara optimal, sehingga kebutuhan tanaman dapat terpenuhi dengan lebih baik. Dengan irigasi yang efisien, potensi gagal panen akibat kekurangan atau kelebihan air dapat ditekan.
Pameran Hilirisasi Pertanian Jadi Sorotan
Tidak hanya meninjau proses budidaya, Kepala Negara juga mengunjungi Pameran Hilirisasi Pertanian yang digelar di lokasi kegiatan. Pameran ini menampilkan beragam inovasi pengolahan hasil pertanian dan perkebunan yang bertujuan meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.
Berbagai produk olahan ditampilkan sebagai contoh nyata bagaimana hasil pertanian tidak hanya berhenti pada tahap produksi bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
Presiden Prabowo bahkan turut mencicipi sejumlah produk hasil pertanian dan perkebunan yang dipamerkan, sebagai bentuk apresiasi terhadap inovasi yang dikembangkan oleh para pelaku usaha dan akademisi.
Pameran tersebut menjadi gambaran nyata potensi besar hilirisasi pertanian jika dikelola secara serius dan berkelanjutan. Melalui pengolahan lanjutan, petani dan pelaku usaha dapat memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dibandingkan hanya menjual hasil panen dalam bentuk mentah.
Gambir Jadi Contoh Strategis Hilirisasi
Salah satu inovasi hilirisasi yang menarik perhatian dalam pameran tersebut adalah pengembangan produk gambir. Muhammad Makky dari Universitas Andalas menjelaskan bahwa gambir merupakan tanaman endemik Indonesia yang memiliki potensi strategis besar di pasar global.
“Gambir merupakan satu-satunya tanaman yang dapat tumbuh di Indonesia dan tidak dapat ditumbuhkan di negara lainnya. Jadi itu merupakan suatu tanaman endemik dan keunggulan karena tidak ada pesaing dari negara lain,” ujarnya dalam keterangan terpisah.
Ia menjelaskan bahwa gambir diolah dari daun yang direbus dan diperas hingga menghasilkan getah berbentuk pasta. Pasta tersebut kemudian mengeras menjadi bongkahan.
Di dalam bongkahan gambir tersebut terdapat dua komponen aktif utama, yakni tanin dan katekin, yang sangat dibutuhkan dunia untuk berbagai keperluan industri.
Kandungan tanin dan katekin membuat gambir memiliki nilai ekonomi tinggi karena digunakan dalam industri farmasi, kosmetik, hingga pangan. Namun, potensi besar tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal di dalam negeri.
Tantangan Ekspor Bahan Mentah
Muhammad Makky menekankan bahwa selama ini Indonesia masih mengekspor gambir dalam bentuk bongkahan. Akibatnya, nilai tambah dari pengolahan lanjutan justru lebih banyak dinikmati oleh negara lain yang mengimpor bahan mentah tersebut.
Kondisi ini mencerminkan tantangan klasik sektor pertanian nasional, yaitu dominasi ekspor bahan mentah tanpa pengolahan lanjutan. Padahal, jika hilirisasi dilakukan di dalam negeri, manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga peningkatan pendapatan daerah.
Oleh karena itu, ia berharap adanya dukungan konkret dari pemerintah untuk mengembangkan industri hilirisasi gambir di Indonesia, khususnya di wilayah sentra produksi.
“Harapannya tentu Bapak Presiden dan melalui Pembantu Presiden, Menteri, dan struktur lainnya memberikan kesempatan dibukanya industri hilirisasi gambir, khususnya di sentra produksi yaitu di Sumatra Barat dan juga Sumatra Utara,” ucapnya.
Komitmen Modernisasi Pertanian Nasional
Kunjungan Presiden Prabowo dalam Panen Raya di Karawang mencerminkan arah kebijakan pemerintah yang menekankan modernisasi dan hilirisasi pertanian.
Dengan memanfaatkan teknologi pertanian modern dan mendorong pengolahan hasil di dalam negeri, pemerintah berupaya menciptakan sektor pertanian yang lebih mandiri dan berdaya saing.
Langkah ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat ketahanan pangan, serta mengurangi ketergantungan pada impor produk olahan.
Panen Raya di Karawang pun menjadi simbol transformasi pertanian Indonesia menuju sistem yang lebih efisien, inovatif, dan berorientasi pada nilai tambah.