JAKARTA - Pergantian tahun sering kali identik dengan jeda aktivitas di berbagai sektor.
Namun, di kawasan pelabuhan, waktu justru menjadi faktor krusial yang tidak mengenal kompromi. Di tengah transisi dari 2025 menuju 2026, PT Jakarta International Container Terminal (JICT) menegaskan bahwa layanan kepelabuhanan dan pergerakan rantai pasok logistik nasional harus tetap berjalan tanpa henti.
Komitmen tersebut tidak hanya disampaikan secara verbal, tetapi dibuktikan melalui operasional nyata di lapangan.
PT Jakarta International Container Terminal (JICT) secara tegas mengirimkan pesan penting kepada seluruh pelaku industri logistik. JICT menegaskan bahwa layanan kepelabuhanan dan arus rantai pasok logistik nasional tidak boleh berhenti sedetik pun, bahkan saat pergantian tahun.
Prinsip kerja non-stop ini menjadi fondasi utama dalam menjaga kelancaran distribusi barang serta menopang stabilitas perekonomian nasional.
Komitmen tersebut ditandai dengan dua momentum simbolik yang sarat makna, yakni proses The Last Container Lifted in 2025 dan The First Container Loaded in 2026.
Kedua momen ini bukan sekadar seremoni, melainkan representasi nyata kesiapan operasional terminal petikemas terbesar di Indonesia dalam memastikan logistik terus bergerak tanpa jeda waktu.
Momentum Pergantian Tahun Tanpa Henti Operasi
Pada malam 31 Desember 2025, JICT mengangkat kontainer terakhir di tahun berjalan. Aktivitas ini menjadi penutup operasional tahun 2025 yang berlangsung sesuai dengan standar keselamatan kerja dan prosedur operasional yang ketat. Namun, proses tersebut bukanlah akhir dari kegiatan terminal.
Hanya berselang beberapa menit, tepat ketika kalender berganti ke 1 Januari 2026, operasional terminal kembali berjalan. JICT langsung melakukan pemuatan kontainer pertama di tahun baru. Seluruh aktivitas berlangsung mulus, tanpa gangguan, serta tetap berada dalam koridor keselamatan kerja dan keandalan sistem yang konsisten.
Rangkaian kegiatan tersebut menegaskan bahwa bagi JICT, pergantian tahun tidak menjadi alasan untuk menghentikan aktivitas. Justru, momen ini dijadikan simbol kesinambungan layanan yang menjadi keunggulan utama dalam industri kepelabuhanan.
Penegasan Kesiapan JICT Hadapi 2026
Wakil Direktur Utama JICT, Budi Cahyono, menegaskan bahwa tradisi Last Container dan First Container merupakan representasi nyata kesiapan perusahaan. Menurutnya, tradisi ini menunjukkan kemampuan JICT dalam menjaga kelancaran rantai pasok sepanjang waktu, termasuk pada momen kritis pergantian tahun.
Budi menekankan bahwa pergantian kalender tidak berarti aktivitas terminal berhenti. Sebaliknya, momentum tersebut menjadi penegasan bahwa JICT 2026 siap bekerja sejak detik pertama.
Pihak manajemen menilai kontinuitas layanan sebagai kunci utama dalam menjaga kepercayaan pelanggan serta memastikan arus logistik nasional terus bergerak.
Ia juga menjelaskan bahwa setiap pergerakan kontainer merupakan hasil kolaborasi erat seluruh elemen di JICT. Kolaborasi ini melibatkan operator lapangan, perencana operasi, hingga tim pendukung yang bekerja secara terintegrasi.
Konsistensi kinerja seluruh elemen inilah yang menjadi fondasi utama JICT dalam menghadirkan layanan pelabuhan yang andal dan memiliki daya saing global.
Penguatan Operasional di Tengah Tantangan Industri
Memasuki tahun 2026, JICT menyadari bahwa tantangan industri logistik akan semakin kompleks. Peningkatan volume perdagangan, tuntutan efisiensi yang lebih tinggi, serta kebutuhan terhadap layanan yang cepat dan aman menjadi tantangan yang harus diantisipasi sejak dini.
Oleh karena itu, penguatan operasional dan keselamatan kerja ditempatkan sebagai prioritas utama. JICT menargetkan peningkatan kapasitas terminal serta keandalan sistem secara menyeluruh. Langkah ini diambil agar terminal mampu merespons dinamika industri dengan tetap menjaga standar layanan terbaik.
Efisiensi operasional juga menjadi fokus utama. Dengan sistem yang andal dan sumber daya manusia yang terlatih, JICT berupaya meminimalkan potensi gangguan layanan yang dapat berdampak pada rantai pasok logistik nasional.
Investasi Peralatan Baru Berbasis Elektrifikasi
Sebagai bagian dari strategi peningkatan produktivitas dan pencapaian standar internasional, JICT menyiapkan investasi besar pada tahun 2026. Perusahaan akan mendatangkan berbagai peralatan baru berbasis elektrifikasi yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan keandalan layanan.
Peralatan baru yang akan dihadirkan meliputi:
e-Quay Container Crane (e-QC)
e-Rubber Tyred Gantry Crane (e-RTGC)
e-Terminal Truck
Budi Cahyono menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk meningkatkan produktivitas sekaligus keandalan layanan terminal.
Selain itu, adopsi teknologi berbasis elektrifikasi juga menjadi bagian dari upaya JICT memenuhi standar operasional global terbaru yang semakin menekankan aspek keberlanjutan dan ramah lingkungan.
Penggunaan peralatan modern ini diharapkan dapat mempercepat proses bongkar muat, menekan biaya operasional, serta meningkatkan keselamatan kerja di area terminal.
Menjaga Daya Saing Terminal Petikemas Nasional
Rangkaian Last Container dan First Container bukan sekadar simbol pergantian tahun, tetapi juga menjadi penanda transisi kinerja JICT dari satu tahun ke tahun berikutnya.
Secara simbolis, momen ini mengingatkan bahwa terminal petikemas tersebut beroperasi secara non-stop, sebuah karakteristik yang vital dalam mendukung kelancaran perekonomian nasional.
Dengan kesiapan sumber daya manusia, peralatan modern, serta sistem operasional yang optimal, JICT optimistis dapat melangkah lebih jauh pada tahun 2026. Perusahaan terus menjaga perannya sebagai salah satu gerbang utama perekonomian Indonesia, khususnya dalam mendukung kelancaran distribusi barang.
Terminal ini menegaskan komitmennya untuk terus mengamankan dan memperlancar rantai pasok logistik demi kepentingan industri nasional.
Melalui operasional tanpa henti, penguatan sistem, serta investasi berkelanjutan, JICT berupaya menetapkan standar baru layanan pelabuhan di Indonesia pada tahun 2026.