JAKARTA - Memasuki tahun 2026, PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) menyiapkan strategi yang lebih terarah untuk memperkuat peran pembiayaan modal kerja dalam struktur bisnis perusahaan.
Setelah melalui periode pasar yang penuh tantangan pada 2025, perusahaan pembiayaan ini melihat peluang pemulihan yang cukup menjanjikan, khususnya di sektor produktif.
Dengan asumsi kondisi ekonomi yang lebih stabil, CNAF optimistis pembiayaan modal kerja dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan terhadap total portofolio pembiayaan.
Langkah ini tidak terlepas dari evaluasi kinerja sepanjang 2025, di mana sejumlah pelaku usaha masih bersikap hati-hati dan menunda ekspansi. Situasi tersebut berdampak langsung pada permintaan pembiayaan, termasuk di segmen modal kerja.
Namun, memasuki awal 2026, CNAF menilai sentimen pasar mulai membaik dan membuka ruang bagi peningkatan penyaluran pembiayaan.
Target Kontribusi Pembiayaan Modal Kerja 2026
Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman menyampaikan bahwa perusahaan telah menetapkan target kontribusi pembiayaan modal kerja yang lebih tinggi pada tahun depan. Pada 2026, CNAF menargetkan kontribusi portofolio atau piutang pembiayaan modal kerja sebesar 8,8% terhadap total target portofolio pembiayaan perusahaan yang dipatok mencapai Rp 8,47 triliun.
“Untuk tahun 2026 mendatang, CNAF menargetkan kontribusi portofolio pembiayaan modal kerja sebesar 8,8% dari total target portofolio pembiayaan CNAF,” ujar Ristiawan.
Target tersebut menunjukkan komitmen CNAF untuk memperluas peran pembiayaan modal kerja yang selama ini masih menjadi bagian lebih kecil dibandingkan segmen pembiayaan lainnya. Dengan peningkatan kontribusi ini, CNAF berharap dapat menangkap peluang pertumbuhan yang lebih luas di sektor usaha produktif.
Tantangan Pasar Sepanjang 2025
Sepanjang 2025, CNAF telah berupaya memanfaatkan berbagai peluang untuk mengoptimalkan penyaluran pembiayaan baru, termasuk di sektor modal kerja. Namun, kondisi pasar yang cukup menantang membuat kinerja pembiayaan tidak tumbuh optimal.
Ketidakpastian ekonomi dan kehati-hatian pelaku usaha menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan ekspansi bisnis.
Ristiawan mengakui bahwa banyak pelaku usaha memilih menunda rencana pengembangan usahanya. Hal ini berdampak langsung pada permintaan pembiayaan modal kerja, yang umumnya berkaitan erat dengan aktivitas produksi dan ekspansi.
Akibatnya, industri pembiayaan secara umum, termasuk CNAF, mengalami tekanan dalam penyaluran pembiayaan baru.
Meski demikian, CNAF tetap memandang periode tersebut sebagai fase penyesuaian yang penting. Evaluasi terhadap strategi bisnis dan penguatan fondasi internal menjadi bekal perusahaan untuk menghadapi peluang di tahun berikutnya.
Harapan Pemulihan dan Peluang di 2026
Memasuki 2026, CNAF melihat adanya potensi perbaikan kondisi pasar. Perusahaan berharap geliat ekonomi kembali meningkat seiring membaiknya sentimen usaha dan stabilitas makroekonomi.
Dalam konteks ini, CNAF memposisikan diri sebagai mitra pembiayaan bagi pelaku usaha yang membutuhkan pendanaan modal kerja untuk mendukung operasional dan ekspansi.
Sektor modal kerja dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan yang cukup besar, terutama jika aktivitas ekonomi mulai bergerak lebih agresif. CNAF menilai permintaan pembiayaan akan meningkat seiring kebutuhan pelaku usaha untuk memperkuat kapasitas produksi, distribusi, maupun pengelolaan arus kas.
UMKM sebagai Motor Pertumbuhan Pembiayaan
Salah satu segmen yang menjadi perhatian utama CNAF adalah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurut Ristiawan, UMKM memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan pembiayaan modal kerja ke depan. Segmen ini dinilai relatif resilien dan memiliki kebutuhan pembiayaan yang berkelanjutan.
Dukungan terhadap UMKM juga diperkuat oleh kebijakan regulator. Terbitnya POJK 46/2024 memberikan pelonggaran bagi perusahaan pembiayaan untuk menyalurkan pembiayaan modal kerja secara lebih optimal.
Regulasi ini menjadi salah satu faktor pendorong CNAF untuk meningkatkan agresivitas penyaluran pembiayaan pada 2026.
“Dengan adanya pelonggaran aturan tersebut, di tahun 2026 mendatang CNAF akan memanfaatkan momentum ini untuk lebih agresif dalam menyalurkan pembiayaan sektor modal kerja,” jelas Ristiawan.
Peran Digitalisasi dalam Strategi CNAF
Selain dukungan regulasi, CNAF juga mengandalkan digitalisasi sebagai salah satu keunggulan kompetitif. Digitalisasi proses pembiayaan diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi nasabah, mulai dari pengajuan hingga pencairan dana.
Proses yang lebih sederhana, aman, dan cepat dinilai mampu meningkatkan daya tarik pembiayaan modal kerja bagi pelaku usaha.
Pemanfaatan teknologi juga membantu CNAF dalam meningkatkan efisiensi operasional serta pengelolaan risiko. Dengan sistem digital yang terintegrasi, perusahaan dapat melakukan analisis kredit secara lebih akurat dan memantau kualitas pembiayaan secara berkelanjutan.
Kinerja Pembiayaan Modal Kerja hingga 2025
Dari sisi realisasi, hingga November 2025 CNAF mencatat total penyaluran pembiayaan baru untuk modal kerja sebesar Rp 548 miliar. Nilai tersebut mengalami koreksi 19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 678 miliar.
Kontribusi pembiayaan modal kerja tercatat sekitar 6% dari total penyaluran pembiayaan baru CNAF yang mencapai Rp 8,49 triliun hingga November 2025. Penurunan ini tidak terlepas dari kondisi pasar yang belum sepenuhnya stabil, sehingga banyak pelaku usaha masih menahan rencana ekspansi bisnisnya.
Meski mengalami penurunan, CNAF menilai kinerja tersebut masih sejalan dengan kondisi industri secara keseluruhan. Perusahaan menjadikan capaian ini sebagai dasar evaluasi untuk menyusun strategi yang lebih agresif namun tetap prudent di tahun berikutnya.
Gambaran Industri Multifinance
Di tingkat industri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan modal kerja industri multifinance per Oktober 2025 tumbuh 9,28% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 53,19 triliun. Nilai tersebut setara dengan 10,53% dari total piutang pembiayaan industri multifinance.
Data ini menunjukkan bahwa secara agregat, pembiayaan modal kerja masih memiliki prospek yang cukup baik. Pertumbuhan di tingkat industri menjadi sinyal positif bagi pelaku usaha pembiayaan, termasuk CNAF, untuk terus mengembangkan portofolio di segmen ini.
Prospek CNAF Menatap Tahun 2026
Dengan kombinasi pemulihan pasar, dukungan regulasi, fokus pada UMKM, serta pemanfaatan digitalisasi, CNAF optimistis pembiayaan modal kerja dapat memberikan kontribusi lebih besar pada 2026. Target kontribusi 8,8% menjadi cerminan keyakinan perusahaan terhadap potensi sektor produktif di tengah dinamika ekonomi.
Ke depan, CNAF akan terus menyeimbangkan antara pertumbuhan bisnis dan pengelolaan risiko. Strategi ini diharapkan tidak hanya mendorong kinerja perusahaan, tetapi juga berkontribusi pada penguatan sektor usaha dan perekonomian nasional secara keseluruhan.