JAKARTA - Perkembangan positif terus terjadi pada harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di wilayah Sumatera Utara (Sumut).
Pada pekan terakhir Januari hingga awal Februari 2026, harga TBS tercatat menembus angka Rp 3.600 per kilogram, menandai peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan pekan sebelumnya.
Data dari Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumut menunjukkan bahwa harga TBS untuk perusahaan mitra dalam periode 29 Januari sampai 3 Februari 2026 mencapai Rp 3.634 per kg, naik dari Rp 3.517 per kg pada pekan sebelumnya.
Kenaikan ini menandakan geliat pasar kelapa sawit yang semakin menggembirakan bagi para petani dan pelaku industri di daerah tersebut.
Harga Produk Olahan Sawit Turut Naik
Selain harga TBS, produk olahan sawit lainnya seperti Crude Palm Oil (CPO) dan kernel lokal juga menunjukkan kenaikan harga yang signifikan di pasar lokal maupun ekspor.
Harga CPO lokal dan ekspor pada periode pekan ini berada di level Rp 14.766 per kg, naik dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 14.418.
Sementara itu, harga kernel lokal di Sumut juga mengalami peningkatan menjadi Rp 12.265 per kg dari sebelumnya Rp 11.756 per kg. Tren kenaikan harga ini mencerminkan permintaan pasar yang kuat serta upaya stabilisasi harga di sektor hilir industri kelapa sawit.
Harga TBS Berdasarkan Usia Tanaman
Kenaikan harga TBS tidak hanya terlihat secara umum, tetapi juga bervariasi berdasarkan usia tanaman kelapa sawit. Perbedaan harga ini mencerminkan kualitas dan produktivitas tandan buah segar yang berbeda-beda sesuai dengan umur pohon.
Berikut rincian harga TBS sawit di Sumut berdasarkan usia tanaman untuk periode 29 Januari hingga 3 Februari 2026:
Usia 3 tahun: Rp 2.816 per kg
Usia 4 tahun: Rp 3.083 per kg
Usia 5 tahun: Rp 3.266 per kg
Usia 6 tahun: Rp 3.358 per kg
Usia 7 tahun: Rp 3.389 per kg
Usia 8 tahun: Rp 3.479 per kg
Usia 9 tahun: Rp 3.545 per kg
Usia 10-20 tahun: Rp 3.634 per kg
Usia 21 tahun: Rp 3.626 per kg
Usia 22 tahun: Rp 3.578 per kg
Usia 23 tahun: Rp 3.543 per kg
Usia 24 tahun: Rp 3.425 per kg
Usia 25 tahun: Rp 3.319 per kg
Kenaikan harga TBS pada tanaman usia produktif, terutama di rentang 10 hingga 20 tahun, menjadi peluang bagi petani untuk meningkatkan pendapatan secara signifikan.
Perbedaan Harga TBS Berdasarkan Kabupaten dan Kota
Harga TBS sawit di Sumut juga menunjukkan variasi yang cukup besar tergantung pada wilayah kabupaten atau kota. Hal ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kualitas tandan buah, jarak ke pabrik pengolahan, dan kondisi pasar lokal.
Berikut adalah rincian harga TBS sawit berdasarkan kabupaten/kota pada periode yang sama:
Kabupaten Langkat: Rp 1.800 per kg
Kabupaten Deli Serdang: Rp 1.850 per kg
Kabupaten Serdang Bedagai: Rp 2.120 per kg
Kabupaten Simalungun: Rp 2.850 per kg
Kabupaten Batu Bara: Rp 1.800 per kg
Kabupaten Asahan: Rp 1.810 per kg
Kabupaten Labuhanbatu Utara: Rp 1.830 per kg
Kabupaten Labuhan Batu: Rp 1.820 per kg
Kabupaten Labuhanbatu Selatan: Rp 1.815 per kg
Kabupaten Padanglawas Utara: Rp 1.800 per kg
Kabupaten Padanglawas: Rp 3.100 per kg
Kabupaten Tapanuli Selatan: Rp 1.800 per kg
Kabupaten Tapanuli Tengah: Rp 1.810 per kg
Kabupaten Mandailing Natal: Rp 3.320 per kg
Kabupaten Pakpak Bharat: Rp 1.930 per kg
Terlihat bahwa harga tertinggi terdapat di Kabupaten Mandailing Natal dan Padanglawas, menandakan potensi produktivitas dan kualitas TBS yang lebih baik di wilayah tersebut.
Dampak Kenaikan Harga bagi Petani dan Industri
Kenaikan harga TBS ini membawa angin segar bagi para petani sawit di Sumut yang selama ini mengandalkan hasil panen sebagai sumber utama pendapatan. Dengan harga yang lebih tinggi, kesejahteraan petani diharapkan meningkat sehingga dapat memacu produktivitas dan kualitas panen.
Selain itu, harga CPO dan kernel yang meningkat juga memperkuat sektor hilir industri sawit, memperbesar nilai tambah dan membuka peluang ekspor yang lebih baik. Pemerintah dan pelaku usaha diharapkan dapat menjaga stabilitas harga agar manfaat kenaikan ini berkelanjutan.
Prospek dan Tantangan Pasar Sawit Sumut
Meskipun harga TBS dan produk olahan menunjukkan tren positif, sejumlah tantangan tetap harus dihadapi oleh petani dan pelaku industri sawit di Sumut. Faktor cuaca, fluktuasi harga global, dan kebijakan ekspor menjadi variabel yang harus diantisipasi agar harga tetap stabil.
Dinas Perkebunan dan Peternakan Sumut terus memantau perkembangan pasar dan memberikan dukungan kepada petani melalui berbagai program peningkatan kualitas dan produktivitas.
Dengan sinergi antara petani, pemerintah, dan industri, harapan besar tercipta untuk menjadikan sawit sebagai komoditas unggulan yang berkelanjutan.
Optimisme di Tengah Kenaikan Harga TBS Sawit
Harga tandan buah segar sawit di Sumatera Utara yang menembus Rp 3.600 per kilogram pada pekan ini menjadi indikator positif yang sangat dinanti oleh petani dan pelaku industri.
Kenaikan harga ini diikuti juga oleh produk turunan seperti CPO dan kernel, yang memperkuat ekosistem industri sawit di daerah tersebut.
Rincian harga berdasarkan usia tanaman dan wilayah memberikan gambaran jelas bagi petani tentang peluang optimalisasi usaha tani mereka. Dengan dukungan regulasi dan manajemen pasar yang baik, prospek cerah untuk sawit Sumut semakin terbuka lebar, membawa manfaat ekonomi yang luas bagi masyarakat lokal.