Pelaku Industri Perikanan DIY Dilibatkan Dukung Program Makan Bergizi Gratis

Minggu, 25 Januari 2026 | 10:53:37 WIB
Pelaku Industri Perikanan DIY Dilibatkan Dukung Program Makan Bergizi Gratis

JAKARTA - Industri perikanan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kini memiliki peran lebih strategis dalam penyediaan pangan bergizi. 

Pelaku usaha dari berbagai sektor, mulai dari pembudidaya ikan, nelayan, hingga produsen pengolahan, dilibatkan langsung dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program ini menekankan pemenuhan kebutuhan protein hewani, terutama ikan, untuk menu gizi masyarakat melalui dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Keterlibatan pelaku industri perikanan ini sekaligus membuka peluang pasar baru bagi produk lokal. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, Hery Sulistio Hermawan, menegaskan bahwa kolaborasi antara industri perikanan dan SPPG semakin memperkuat ekosistem distribusi pangan bergizi. 

“Sampai Januari 2026, kami sudah mengadakan beberapa kali konsolidasi dengan pelaku industri perikanan bersama SPPG, hingga terbentuk kerja sama yang solid. Saat ini ada 17 pelaku budidaya, 20 pelaku pengolah produk perikanan, dan lima nelayan atau pengusaha penangkap ikan yang sudah bekerja sama dengan SPPG,” jelas Hery.

Memaksimalkan Pasar Lokal

Program MBG menjadi kesempatan strategis untuk memaksimalkan pasar perikanan di DIY. Selama ini, sebagian hasil budidaya dan tangkapan ikan masih dikirim ke luar daerah, sementara kebutuhan lokal masih mengandalkan impor sekitar 28 persen dari total konsumsi. “Ikan masuk dari luar DIY sekitar 28 persen,” tambah Hery.

Tren produksi ikan di DIY juga menunjukkan pertumbuhan positif. Data 2025 mencatat hasil budidaya mencapai 98.569,4 ton, meningkat dari 97.494 ton pada 2024. Ikan tangkap pun naik signifikan, dari 7.319,04 ton pada 2024 menjadi 106.226,8 ton pada 2025. 

Peningkatan ini menunjukkan potensi DIY untuk memperkuat ketahanan pangan lokal sekaligus mendukung program MBG.

Kolaborasi untuk Ketersediaan Protein Berkelanjutan

Sejak 2025, DKP DIY mendorong pelaku industri perikanan agar bekerja sama dengan SPPG, memastikan pasokan protein hewani, khususnya ikan, tersedia secara berkelanjutan. 

Hal ini penting mengingat program MBG membutuhkan sumber protein hewani yang stabil untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. “Program nasional ini membutuhkan ketersediaan sumber protein hewani yang stabil,” tegas Hery.

Konsolidasi tidak hanya berhenti pada kerja sama rutin, tetapi juga melibatkan pemetaan kapasitas produksi pembudidaya, kesiapan unit pengolahan, dan mekanisme distribusi hasil panen. 

Januari 2026, DKP DIY menggelar konsolidasi Jejaring Budidaya Patin dan Lele se-DIY. Kegiatan ini bertujuan memperkuat koordinasi antara pelaku budidaya dan pengolah, agar pasokan ikan ke SPPG lancar dan tepat waktu.

Peluang Pasar bagi Pelaku Industri Perikanan

Badan Gizi Nasional (BGN) menargetkan pembangunan 320 dapur SPPG di DIY. Hingga akhir 2025, sekitar 50 persen target telah terealisasi. Hal ini membuka peluang besar bagi pelaku industri perikanan lokal untuk memperluas pasar, meningkatkan omzet, dan memperkuat keberlanjutan usaha. 

Dengan adanya jaringan SPPG, produsen lokal memiliki konsumen tetap sekaligus memperkuat peran mereka dalam ketahanan pangan regional.

Program MBG tidak hanya meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan bergizi, tetapi juga memberikan efek ekonomi positif bagi industri perikanan DIY. 

Pasokan ikan yang stabil dan penyerapan produk lokal oleh dapur SPPG dapat menjadi model pengembangan pasar yang berkelanjutan, menguntungkan produsen, nelayan, dan konsumen sekaligus.

Kesiapan Pelaku Usaha Perikanan

Pelaku industri perikanan DIY menunjukkan antusiasme tinggi. Konsolidasi rutin dan pendampingan dari DKP DIY membantu mereka memahami mekanisme distribusi, standar kualitas produk, dan jadwal pasokan yang harus dipenuhi. 

Dengan demikian, pelaku usaha tidak hanya menargetkan keuntungan ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada ketersediaan pangan sehat untuk masyarakat.

Kerja sama ini juga membuka ruang inovasi bagi pengolahan produk perikanan. Produsen bisa menyesuaikan produk dengan menu MBG, seperti pembuatan ikan fillet, ikan olahan siap saji, atau produk ikan bernilai tambah lainnya. 

Langkah ini tidak hanya menambah nilai ekonomi, tetapi juga meningkatkan daya saing industri perikanan DIY di pasar lokal maupun nasional.

Kontribusi terhadap Ketahanan Pangan dan Gizi

Melalui keterlibatan aktif industri perikanan, program MBG dapat berjalan lebih efektif. Penyediaan protein hewani yang terjamin kualitas dan kontinuitasnya membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan. 

Hal ini sejalan dengan misi BGN untuk meningkatkan kualitas konsumsi pangan serta mendukung kesehatan masyarakat secara menyeluruh.

Selain itu, distribusi produk lokal mengurangi ketergantungan pada pasokan luar daerah, memperkuat kemandirian pangan DIY, dan menekan biaya distribusi. Dengan demikian, program MBG tidak hanya menjadi program sosial, tetapi juga sarana pengembangan ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Keterlibatan pelaku industri perikanan DIY dalam program MBG menunjukkan sinergi antara pemerintah dan sektor swasta untuk mewujudkan ketahanan pangan.

Kolaborasi ini tidak hanya memastikan ketersediaan protein hewani yang stabil bagi masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi produsen lokal. 

Dengan koordinasi, pemetaan kapasitas, dan pendampingan, pelaku industri perikanan DIY dapat memanfaatkan peluang pasar, meningkatkan efisiensi produksi, dan berkontribusi pada program gizi nasional secara berkelanjutan.

Terkini