JAKARTA - Harga minyak dunia mengalami kenaikan tipis pada Selasa, 20 Januari 2026, meskipun terbatas oleh ketidakpastian yang dipicu oleh ancaman perdagangan dari pemerintahan Trump.
Data positif dari ekonomi Tiongkok, yang menunjukkan pemulihan lebih baik dari perkiraan, menjadi faktor yang mendukung kenaikan harga. Namun, ketegangan politik global, terutama terkait dengan ancaman tarif perdagangan terhadap negara-negara Eropa, memberi batasan pada optimisme pasar.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari Investing.com, harga minyak Brent berjangka untuk pengiriman Maret mengalami kenaikan sebesar 0,8 persen menjadi USD 64,41 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka juga naik sebesar 0,8 persen, mencapai USD 59,83 per barel. Ini terjadi setelah hari Senin sebelumnya tidak ada penyelesaian harga.
Tiongkok Tumbuh Lebih Baik dari Perkiraan: Dampak Positif pada Pasar Minyak
Kenaikan harga minyak sebagian besar dipicu oleh data ekonomi Tiongkok yang menunjukkan pertumbuhan lebih baik dari ekspektasi. Pada kuartal keempat 2025, PDB Tiongkok tercatat tumbuh sebesar 1,2 persen secara kuartalan, sedikit lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya yang hanya mengharapkan 1,1 persen.
Dengan pertumbuhan ini, PDB Tiongkok untuk seluruh tahun 2025 tercatat naik sebesar 5 persen, tepat memenuhi target tahunan yang telah ditetapkan oleh Beijing.
Tiongkok, sebagai importir minyak terbesar di dunia, mengalami peningkatan signifikan dalam pengolahan minyak di kilang, yang naik sebesar 4,1 persen dibandingkan tahun lalu.
Sementara itu, produksi minyak mentah domestik Tiongkok juga tumbuh sebesar 1,5 persen, mencapai angka tertinggi sepanjang masa. Hal ini memberikan harapan bahwa permintaan minyak mentah dari Tiongkok akan tetap kuat, meskipun pasar global mengalami kelebihan pasokan.
Ancaman Trump Terhadap Eropa Membayangi Kenaikan Harga Minyak
Namun, meskipun ada optimisme dari data ekonomi Tiongkok, harga minyak masih terhambat oleh ketegangan geopolitik.
Pada hari Senin, pasar minyak dunia diguncang oleh ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyatakan akan mengenakan tarif hingga 25 persen terhadap sejumlah negara Eropa, termasuk Prancis, Denmark, dan Inggris, jika mereka tidak setuju untuk menyerahkan Greenland kepada Amerika Serikat.
Trump telah lama menuntut agar Greenland diserahkan kepada AS, dengan alasan bahwa penguasaan wilayah tersebut sangat penting untuk keamanan nasional Amerika.
Ketegangan ini semakin memanas setelah AS melakukan intervensi militer di Venezuela, yang membuat pasar semakin waspada terhadap kemungkinan tindakan militer lebih lanjut.
Fokus Beralih ke Persediaan Minyak AS dan Laporan IEA
Terlepas dari ketegangan geopolitik, pasar minyak global kini memfokuskan perhatian pada laporan Badan Energi Internasional (IEA) yang dijadwalkan akan dirilis pada Rabu, 21 Januari 2026.
Laporan ini diperkirakan akan memberikan pandangan lebih dalam tentang keseimbangan antara pasokan dan permintaan minyak dunia, mengingat adanya peringatan dari IEA mengenai kemungkinan surplus pasokan yang lebih besar pada tahun 2026.
Selain itu, data persediaan minyak mentah dari Amerika Serikat, yang akan dirilis dalam beberapa hari mendatang, juga menjadi perhatian utama. Sebagai produsen minyak terbesar di dunia, data ini akan memberikan petunjuk penting tentang dinamika permintaan dan pasokan minyak di pasar global.
OPEC Optimis, Namun IEA Memperingatkan Surplus Pasokan Minyak pada 2026
Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) telah menyampaikan prospek positif untuk permintaan minyak pada 2026 dan 2027.
Namun, laporan IEA memperingatkan tentang risiko surplus pasokan yang dapat mengganggu kestabilan harga minyak di pasar global. Mengingat ketegangan politik dan faktor ekonomi yang saling mempengaruhi, pasar minyak diprediksi akan terus berfluktuasi.