JAKARTA - Menjelang pembukaan perdagangan bursa 2026, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis indeks harga saham gabungan (IHSG) bisa menembus 10.000. Optimisme ini muncul meski sepanjang 2025, IHSG hanya menutup perdagangan di level 8.646,93 dan gagal menyentuh 9.000.
Purbaya menekankan bahwa kinerja IHSG sangat bergantung pada kondisi perekonomian dan kebijakan yang diterapkan sejak awal tahun. “Jika sejak awal 2025 desain kebijakan pasar modal sesuai arah ekonomi, seharusnya IHSG sudah tembus 9.000,” ujarnya kepada wartawan di kantor Kemenkeu, Jakarta, Jumat, 2 Januari 2026.
Kinerja Pasar Modal 2025 dan Rekor All Time High
Sepanjang 2025, IHSG mencatatkan kenaikan 22,13% year to date (YtD). Selama periode tersebut, bursa sempat mencetak beberapa rekor tertinggi sepanjang sejarah atau all time high (ATH), menandakan pasar saham tetap diminati investor domestik maupun asing.
Purbaya menilai capaian tersebut belum maksimal karena koordinasi kebijakan fiskal dan moneter sempat kurang sinkron. Namun, ia optimistis bahwa dengan perbaikan koordinasi, pertumbuhan IHSG dapat melampaui target sebelumnya.
Strategi Pemerintah untuk Mendorong Pertumbuhan IHSG
Purbaya menjelaskan setidaknya ada tiga fokus utama pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan IHSG pada 2026. Pertama, mempercepat belanja pemerintah pusat maupun daerah sejak awal tahun untuk memacu konsumsi dan investasi domestik.
Kedua, memperkuat koordinasi antara otoritas fiskal dengan Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter. Ketiga, mengurai hambatan usaha melalui program debottlenecking agar aktivitas bisnis dan pasar modal berjalan lebih lancar.
Menurut Purbaya, koordinasi antara Kemenkeu dan BI telah menunjukkan perbaikan signifikan sejak satu bulan terakhir di 2025. Ia mencontohkan injeksi likuiditas senilai Rp276 triliun dari kas pemerintah ke perbankan yang membantu menjaga stabilitas sistem keuangan.
Optimisme Pertumbuhan Ekonomi 2026
Dengan kebijakan yang semakin sinkron, Purbaya menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 bisa mencapai 6%. “Dengan koordinasi yang baik antara fiskal dan moneter, pertumbuhan 6% tidak terlalu sulit untuk dicapai,” ujarnya.
Kebijakan tersebut diharapkan tidak hanya mendorong IHSG melampaui 10.000, tetapi juga meningkatkan investasi, konsumsi, dan aktivitas ekonomi secara menyeluruh. Purbaya menekankan pentingnya langkah awal yang cepat agar momentum pertumbuhan dapat dipertahankan sepanjang tahun.
Selain itu, percepatan belanja pemerintah sejak awal tahun menjadi instrumen penting dalam menjaga likuiditas pasar. Langkah ini dipandang mampu meningkatkan permintaan domestik, sekaligus mendorong perusahaan dan investor untuk lebih aktif bertransaksi di bursa.
Tantangan dan Peluang Pasar Modal 2026
Meski optimis, Purbaya menyadari tantangan global tetap mempengaruhi pasar modal. Faktor eksternal seperti fluktuasi harga komoditas, ketidakpastian geopolitik, dan volatilitas pasar keuangan harus diantisipasi melalui kebijakan yang adaptif dan koordinasi lintas lembaga.
Namun, potensi pertumbuhan IHSG hingga 10.000 tetap terbuka. Sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter, percepatan belanja pemerintah, dan program debottlenecking diyakini akan menjadi katalis utama yang mendorong pasar saham bergerak lebih agresif.
Purbaya juga menyoroti bahwa pencapaian 10.000 di IHSG bukan sekadar angka, melainkan cerminan kesehatan ekonomi nasional secara keseluruhan. Pertumbuhan saham yang kuat menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia jangka menengah dan panjang.
Koordinasi erat antara Kemenkeu dan BI menjadi kunci agar kebijakan fiskal dan moneter berjalan selaras. Sinergi ini akan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi stabilitas harga, likuiditas pasar, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Selain itu, penghapusan hambatan usaha atau debottlenecking diharapkan memberikan efek langsung pada pasar modal. Perusahaan dapat meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pasar, dan menarik investor baru, yang pada gilirannya memacu IHSG naik lebih cepat.
Purbaya menegaskan bahwa optimisme ini realistis. Dengan kebijakan tepat sasaran dan koordinasi lintas lembaga yang kuat, IHSG pada akhir 2026 bukan hanya bisa menembus 10.000, tetapi juga membuka peluang pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.